FF | Chapter | How Can I Chapter 1

Title : How Can I?

 

Author : Park Soo Hee

Cast :

Jung Eun Ji as Eunji

Shin Yoon Jo as Yoon Jo (Eunji’s eonni)

Byun Baek Hyun as Baekhyun

Other Cast : Find by yourself

Genre : Romance

 

Annyeong! Ini FF pertama buatan Soo. Maaf kalau masih abal-abal. Maklun ya Soo baru pertama kali bikin ff. Hm, masalah cast, mian jika cast-nya pada nggak suka. Soo cuma ngebuat ff hasil request-an teman-teman Soo.

Hati-hati, typo bertebaran XD

So, happy reading yap.

                Eunji POV

                Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Incheon. Semua penumpang berhamburan keluar dari dalam pesawat lalu pergi ke tempat tujuan masing-masing. Hal yang serupa juga aku lakukan bersama eonni-ku, kami berjalan layaknya seorang artis, dengan koper berada di tangan kanan serta kacamata hitam menutupi daerah mata. Ah… aku merasa benar-benar seperti seorang artis.

                Yoonjo eonni tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aku yang tepat di belakangnya buru-buru ikut menghentikan langkahku. Tubuhku hampir saja menabrak tubuh bagian belakang Yoonjo eonni. Aku mendongakkan kepalaku.

“Eonni!” teriakku sebal sambil menghentak-hentakkan kakiku tepat di depannya. Dia tak memperhatikanku, matanya masih menatap keadaan sekitar. Seperti sedang mencari seseorang.

Yoonjo eonni yang masih tidak menghiraukanku menghela nafas pelan. Tangan kanannya kembali menggenggam erat gagang koper dan tangan kirinya dia masukkan ke dalam saku jaket tebalnya. Dia kembali berjalan, entah ingin kemana.

Aku selesai mengikat kembali tali sepatu yang lepas. Berdiri sambil mengenggam gagang koper dengan erat. Mataku mencari-cari Yoonjo eonni yang tiba-tiba hilang dari penglihatanku.

Tubuhku lemas, kakiku gemetar. Aku membayangkan hal yang tidak-tidak. Di tinggal oleh eonni di negeri yang jauh dari tempat asalku. Di negeri yang tidak ku ketahui asal-usulnya.

“Apa yang harus ku lakukan?” ucapku cemas. Raut wajahku menunjukkan aku sangat membutuhkan bantuan. Aku masih berdiri di tempat semula, orang-orang yang melewatiku menatapku dengan tatapan bingung. Keringat dingin perlahan-lahan mulai mengucur kebawah.

Author POV

Eunji menghentakkan kakinya dengan perasaan kesal beberapa kali. Di geretnya koper merah muda ke salah satu kursi tunggu yang kosong. Wajahnya dia benamkan dengan kedua telapak tangannya sesaat.

Sudah dua puluh menit Eunji duduk di kursi tunggu. Suasana bandara semakin lama semakin ramai dan membuat Eunji makin sulit mencari eonninya. Sudah dua puluh menit lamanya Eunji memasang ekspresi kesal dan di dalam hatinya sudah banyak sekali kutukan yang dia berikan untuk eonninya.

Eunji menundukkan kepalanya ke bawah menatap sepatu biru yang berhiaskan bintang di bagian sampingnya. Di goyangkan kakinya secara perlahan hingga akhirnya dia merasa benar-benar bosan.

“Saya boleh duduk di sini?” tanya seorang pria dengan mantel hitam yang berdiri tepat di depan kursi kosong di sebelahnya. Eunji menganggukkan kepalanya dan dalam sekejap pria tersebut telah duduk di sebelahnya.

“Kau terlihat menyedihkan. Hahaha…,” entah apa yang dimaksud pria ini, antara menertawai serta merasa iba. Eunji menatapnya dengan tatapan tajamnya sekilas. Tatapan tajamnya seperti sedang memberitahu bahwa dia sedang tidak ingin di ganggu sekarang.

“Ah… maafkan aku,” dia membungkam mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Matanya dia sipitkan. Eunji kembali bingung di buatnya. ‘Dia ini menertawakanku atau memang benar-benar meminta maaf?’ umpat Eunji masih dengan tatapan tajamnya.

Eunji yang merasa dirinya benar-benar bisa menjadi gila karena terlalu lama duduk di dekat pria yang tidak dia kenal ini buru-buru mengangkat kopernya lalu pergi mencari tempat duduk yang kosong.

“Pria aneh. Sebenarnya apa maunya?” gerutu Eunji kesal masih dengan koper merah jambu di tangannya. “Aish, koper ini berat sekali,” gerutunya lagi. Sepuluh menit Eunji mencari-cari tempat yang kosong namun masih tak dia temukan.

‘Aish,, apa yang harus ku lakukan?’ batinnya. Kini rasa cemas datang menghantui pikirannya. Yoonjo eonni yang tak kunjung datang serta rasa capai karena sudah terlalu lama berdiri dan tidak mendapatkan tempat duduk. Dia sudah mengutuk dirinya sendiri hari ini.

Eunji yang merasa benar-benar capai akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempatnya yang tadi. Dia lebih memilih merasa pasrah di beri pertanyaan oleh pria misterius tadi daripada harus berdiri dan menenteng tas punggungnya yang cukup berat.

“Hahaha…. Tebakanku benar. Kau kembali lagi,” pria itu melambaikan tangannya lalu menepuk-nepuk tempat kosong yang berada di sebelahnya. Dengan wajah malasnya Eunji berjalan menuju tempat yang di tunjuk pria tadi.

“Ahhhh…. Apa yang harus kulakukan?” Eunji mengacak-acak rambutnya sambil mengehentak-hentakkan kakinya dengan tempo cepat. Alhasil, kini Eunji terlihat seperti orang gila. Rambut yang berantakan, baju yang sudah mulai kusut dan sedikit berantakan serta raut wajah yang sudah sangat berantakan.

“Kau kenapa?” Pria itu perlahan melirik Eunji yang menurutnya sudah hampir gila. Satu hingga dua menit Eunji terdiam, tidak menjawab.

“Kau tahu, sekarang aku sedang pusing. Eonniku meninggalkanku, hah, entah apa yang di pikirkannya sekarang, meninggalkan adiknya di negara yang sama sekali tidak ku kenal tempat-tempatnya serta bahasanya,” Eunji kembali membenamkan wajahnya. “Kau sendiri sedang apa di sini? Menunggu seseorang?” gadis itu mencoba menebak-nebak apa yang sedang pria itu lakukan di tempat ini.

“Hm,” jawabnya seraya menganggukkan kepalanya. “Seseorang yang sudah lama sekali tidak ku lihat dan hari ini saya akan bertemu dengannya. Tapi sudah dari tadi saya berkeliling bandara ini, saya tidak menemukan orang yang ku cari,” pria tersebut menopang wajahnya dengan telapak tangannya.

“Kasihan,” dengan perasaan bangga Eunji mencibirnya. Di sipitkan matanya serta di naikkannya sebelah sudut bibirnya.

“Yoonjo!”

“Eonni!”

Keduanya bangkit bersamaan serta melambaikan tangan secara bersamaan kepada orang yang sama. Seseorang yang memakai mantel cokelat dengan kaus berwarna merah di dalamnya yang sedikit terlihat. Celana panjangnya yang berwarna hitam menutupi kedua kakinya hingga sampai ke mata kaki. Wanita yang di sebut-sebut sebagai eonni dari Eunji berjalan mendekati mereka berdua.

“Hai,” Yoonjo melambaikan tangannya. Secara bersamaan kedua manusia yang berada di depannya membalas lambaian tangannya. Yoonjo menatap pria yang berada di sebelah Eunji sekilas lalu menatap Eunji dengan sekilas juga.

“Kalian saling mengenal?” Yoonjo menunjuk Eunji dan pria yang berada di sebelahnya secara bergantian.

Eunji menggelengkan kepalanya. “Pria ini aneh. Tiba-tiba datang. Tampangnya mengerikan,” jelasnya dengan tatapan yang serius. “Eonni sendiri, kenal dengannya?” Eunji menunjuk pria yang berada di sebelahnya. Merasa sedang di bicarakan, pria tersebut menoleh ke arah Eunji dengan tatapan bingung.

“Dia temanku,” Yoonjo menjawab pertanyaan Eunji dengan santai. Eunji melongo, membulatkan matanya. “Yasudah, kalau begitu, Baekhyun!” panggilnya. Baekhyun menoleh seakan-akan memberikan pertanyaan ada-apa?

                Eunji menatap ke luar jendela, menatap jalan raya yang ramai oleh mobil-motor yang berlalu lalang melintasi mobil yang tengah di naikinya. Mobil ini melaju dengan sangat kencang seperti sedang mengejar waktu.

Jujur saja, ini baru kali pertamanya Eunji berkunjung ke Seoul dan selama satu tahun ke depan dia akan tinggal di negri ini bersama eonninya dengan tujuan melanjutkan sekolah eonninya.

Yoonjo mendapat beasiswa untuk belajar di salah satu universitas di kota Seoul selama setahun dan akan kembali ke negara asalnya ketika ‘jatah’ beasiswanya telah habis. Orangtuanya sangat semangat untuk memberangkatkan anaknya ke Seoul. Namun, Yoonjo meminta agar mengajak Eunji ikut pergi dengan tujuan untuk menemaninya. Sudah berkali-kali Eunji menolak ajakan Yoonjo karena tak ada dia tak memiliki ketertarikan sedikit pun terhadap negara Korea, tapi ketika Yoonjo menawarkan akan menyekolahkannya di salah satu sekolah menengah atas yang terkenal di sana, Eunji tergiur dan menerima tawarannya.

“Kau akan mulai belajar lusa. Jadi persiapkan dirimu hari ini,” Eunji berjalan menuju sofa lalu duduk di atasnya. Yoonjo menghampirinya dengan box-box kecil yang berisi peralatan memasak di tangannya. “Oh ya, yang terpenting, kau jangan mengcewakanku di hari pertamamu. Memalukan sekali,” lanjutnya yang kini telah berlalu dari pandangan Eunji.

Eunji mendengus kesal. Menurutnya terlalu cepat jika dia harus memulai sekolahnya lusa nanti. Minimal satu minggu sebelum dia ke sekolah karena dalam satu minggu penuh itu, dia ingin menghabiskan hari-hari itu untuk berkeliling dan berbelanja.

Dua menit berpikir, Eunji tiba-tiba bangkit dan langsung berjalan menuju kamarnya hendak berganti pakaian. Sekitar dua puluh menit berlalu Eunji keluar dengan pakaian casual-nya serta tas selempang berwarna biru di pundak kanannya.

Sebenarnya Eunji ingin pergi jalan-jalan keluar apartemen tanpa sepengetahuan Yoonjo eonni agar dia lebih leluasa. Maksudnya, jika Yoonjo tahu bahwa Eunji akan keluar untuk berjalan-jalan, Yoonjo pasti meminta agar Eunji mengajaknya.

Mungkin sekitar lima atau enam langkah lagi Eunji akan sampai di depan pintu keluar, Eunji malah di kagetkan oleh ‘sosok’ Yoonjo yang tiba-tiba muncul dari dinding pembatas antara ruang makan dan ruang tamu. Sontak Eunji terkejut dan berdoa dalam hati agar Yoonjo tak memaksanya untuk ikut.

“Ingin keluar?” Yoonjo melihat penampilan Eunji dari atas hingga kebawah. Eunji menundukkan kepalanya sambil mengangguk. Ekspresinya terlihat seperti tolong-izinkan-aku-pergi padahal di dalam hatinya, dia sedang berkomat-kamit agar Yoonjo tidak ikut.

“Satu jam sebelum makan malam aku ingin kau sudah ada di apartemen ini. Pergilah,” Eunji membelakkan matanya ketika kalimat yang di ucapkan Yoonjo barusan berhasil membuat dirinya berjingkrak-jingkrak nggak jelas.

“Aku pergi. Dadah eon,” Eunji memeluk Yoonjo sekilas lalu keluar dari apartemen dengan hati yang berbunga-bunga.

Dari gedung apartemen, Eunji harus berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai ke stasiun yang akan mengantarkannya ke salah satu mal yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Butuh waktu sekitar lima menit untuk menunggu kereta datang.

                “Baiklah, aku harus kemana dulu sekarang,” Eunji menatap sekeliling mal. Masih sibuk melihat-lihat, akhirnya Eunji memutuskan untuk masuk ke dalam toko buku untuk membeli peralatan sekolahnya.

Eunji sibuk memilah barang apa saja yang akan di belinya, di ambilnya lalu di masukkan ke dalam tas yang diberikan oleh salah seorang pelayan toko buku tersebut. Merasa semua telah cukup, Eunji iseng-iseng berjalan menuju rak yang berisi oleh buku novel terjemahan.

Di ambilnya salah satu buku yang menurutnya menarik. Eunji melirik sekitar, tampak sepi. Berhubung novel tebal tersebut tak lagi di bungkus rapi dengan plastik putih, Eunji buru-buru menyempatkan diri untuk membacanya.

“Disini dilarang untuk membaca buku,” seseorang mengejutkan Eunji. Buku yang sedang asyik dia baca hampir saja terlempar. Eunji menatap ke belakang, ke arah sumber suara. Seorang pria yang sepertinya tidak asing di matanya tengah tersenyum ke arahnya.

“Ahh!!!” Eunji menunjuk pria itu. Ekspresi pria yang dia tunjuk berubah seketika, seperti sedang bertanya apa-salahnya? “Kau pria yang di bandara itu ya? Temannya Yoonjo eonni ya?” Pria itu menaikkan sebelah alisnya. ‘Aish aku lupa namanya. Siapa ya,’ batinnya dalam hati.

“Kau masih ingat ternyata,” ucapnya senang. Eunji tersenyum dengan terpaksa.

“Eonni-ku dapat beasiswa sekolah di sini selama setahun. Orangtuaku senang sekali mendengarnya. Saya juga merasa senang dan ingin sekali berada di posisinya saat itu. Namun ketika aku tahu dia akan sekolah di Seoul, aku menarik ucapanku tadi. Entah kenapa tiba-tiba Yoonjo eonni menawarkanku untuk ikut bersamanya karena penyakit ‘penakutnya’,” Eunji berjalan berdampingan bersama Baekhyun. Sesekali Eunji menyempatkan diri untuk menyeruput moccacino hangat miliknya.

“Dia memaksamu?” Baekhyun mencoba menebak-nebak.

Eunji mengangguk mantap lalu kembali menyeruput minumannya. “Dia bahkan memohon kepada orangtua agar dapat mengajakku pergi bersamanya. Dari awal aku sudah menolak. Namun ada satu hal yang membuatku tergiur untuk ikut bersamanya,” sambungnya namun cerita yang disampaikannya tampak menggantung.

“Apa lanjutannya?” Baekhyun merasa penasaran akan kelanjutan cerita tersebut. Eunji tersenyum sesaat lalu membuang gelas plastik yang dia pakai untuk meminum moccacino yang sudah habis tadi ke tempat sampah terdekat.

“Lanjutannya masih rahasia,” jawab Eunji sambil tertawa lepas. Merasa mengganggu suasana, Eunji membekap mulutnya sendiri namun masih dengan keadaan tertawa. Bisa di bilang dia tertawa tidak sekeras sebelumnya.

Baekhyun memasang tampang cemberut. Entah di sengaja atau tidak, Baekhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku lalu berjalan lebih cepat dari Eunji sehingga tampak Baekhyun sedang mencoba meninggalkan Eunji. Eunji yang sadar bahwa dirinya telah di tinggalkan buru-buru mengejar Baekhyun.

“Kau marah? Hahaha…,” Eunji mengejar Baekhyun yang sudah hampir jauh. Baekhyun tak menjawab. Eunji semakin ingin tertawa di buatnya.

“Ini balasan untuk yang di bandara tadi karena kau telah menertawaiku ,” Eunji tersenyum puas dengan tangan yang dilipatnya. Baekhyun tiba-tiba berhenti dan menatap Eunji dengan tatapan bingung.

“Yang mana? Aku lupa,” Baekhyun mencoba mengingat-ingat. Eunji tidak benar-benar tahu apa Baekhyun benar-benar lupa atau hanya omong kosongnya saja.

“Hah, pelupa,” cepat-cepat Eunji menjitak kepala Baekhyun. Sontak Baekhyun meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya yang tidak terlalu sakit akibat jitakan Eunji. “Kya satu jam lagi aku harus pulang. Nah Baekhyun kita berpisah di sini, ya. Aku harus berbelanja sekarang. Masih ada sisa waktu satu jam. Sampai jumpa,” Eunji melirik jamnya sekilas lalu buru-buru berpamitan kepada Baekhyun.

Merasa Eunji sudah hilang dari pandangannya, Baekhyun langsung memutar arah untuk pulang ke apartemennya. Baekhyun masih mengusap-usap kepalanya. Dia tahu jitakan Eunji tadi tidak terlalu keras, namun rasa sakitnya masih membekas dan seperti tidak ingin hilang. ‘Dia gadis yang menyeramkan,’ batinnya seraya pergi ke luar dari dalam gedung.

Eunji asyik mencari-cari dress, sepatu hingga aksesori-aksesori yang menurutnya menarik dan cocok jika dia gunakan. Sudah berapa lembar won dia habiskan untuk hari ini. Empat puluh menit lamanya Eunji berbelanja dan dalam kurun waktu selama itu Eunji berhasil membawa lebih dari enam kantung belanjaan yang isinya bermacam-macam.

                “Aku pulang,” seru Eunji dengan santainya sambil melepas sepatunya lalu meletakkannya dengan rapi di atas rak. Eunji menatap sekitar ruangan yang tampak sepi. Yoonjo eonni mungkin sedang pergi keluar untuk membeli sesuatu atau sedang tertidur di kamarnya. Merasa itu semua tidak penting baginya, Eunji lantas berjalan menuju kamarnya.

                Di rebahkan tubuhnya di atas tumpukkan kapas yang empuk. Merasakan kelembutan yang perlahan demi perlahan di rasakan oleh tubuhnya. Hari ini benar-benar lelah. Seharian menghabiskan waktu untuk berbelanja dengan bahagia tanpa ada gangguan dari Yoonjo eonni.

Yoonjo eonni! Merasa lima belas menit yang lalu dia benar-benar tidak melihat Yoonjo eonni, Eunji lantas penasaran dan mencari-carinya ke sekeliling ruang apartemen yang tidak terlalu besar ini. Kamar tidur, dapur, ruang tamu, di tiga tempat tersebut, Eunji tak menemukannya.

“Eonni,” panggil Eunji. Tak ada sahutan yang dia dengar. Suasana tampak sepi dan hanya terdengar suara langkah kaki yang di sumberkan oleh kakinya sendiri. Merasa Yoonjo benar-benar tak ada, Eunji memutuskan untuk menonton televisi sambil memakan keripik yang sempat dia beli di minimarket.

Yoonjo POV

Eunji telah pergi untuk shopping. Sekarang tinggal aku sendirian di apartemen ini. Ruangan ini masih kosong dan perlu di isi oleh beberapa perabotan. Anak itu, bukannya membantu mengangkut barang-barang malah seenaknya pergi berbelanja tanpa mengajakku. Huh!

‘Ah pegalnya’, batinku sambil merenggangkan otot pinggangku. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Barang-barang sudah sepenuhnya ku angkut dan ku tata di dalam ruangan. Badanku terasa lengket dan penuh oleh keringat yang tadi sempat bercucuran. Mungkin yang harus ku lakukan sekarang adalah mandi. Ya! Mandi!

Usai mandi aku kembali berpikir. Bosan. Satu kata yang berhasil menghantui pikiranku. Apa aku harus mengejar Eunji dan memohon padanya agar dapat ikut berbelanja bersamanya? Mungkin itu adalah hal bodoh yang tidak akan pernah aku lakukan seumur hidupku.

Tok!Tok!Tok!

Terdengar seperti sebuah bunyi ketukan pintu. Buru-buru aku menuju ke depan untuk membuka pintu. Apa itu Eunji yang baru pulang dari berbelanja. Mungkin tidak. Eunji tidak akan pernah berbelanja secepat itu.

“Baekhyun?” ucapku tak percaya. Baekhyun kini tepat berada di depanku. Apa yang ingin dia lakukan sekarang? “Ada apa? Apa ada yang tertinggal di mobilmu tadi?” tanyaku. Baekhyun menggeleng.

“Kau kesepian?” tanyanya. Jelas-jelas aku mengangguk karena Eunji tengah pergi berbelanja. “Wah kita sama! Kalau begitu tolong temani aku jalan-jalan. Aku akan membelikan barang yang kau minta sebagai balasannya. Kau mau?” tawarnya. Aku sempat memikirkannya dua hingga tinga kali dahulu, barulah aku menjawab iya.

“Baiklah. Tunggu di sini sebentar. Aku ingin berganti pakaian,” jawabku. Baekhyun mengangguk dan duduk di salah satu kursi kosong.

Aku keluar dengan kemeja lengan panjang serta jeans ketat panjang hingga mata kaki. Baekhyun langsung mengajakku masuk ke dalam mobilnya. Aku menurut. Di hidupkan mesin mobilnya dan tak lama kemudian mobil telah meluncur ke jalanan.

“Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau tahu, ketika kau mengabariku jika kau akan sekolah disini, aku sudah sangat senang dan tak sabar untuk menjemputmu di bandara sambil membayangkan parasmu. Ternyata wajahmu tak berubah sejak sekolah menengah dulu. Namun ada satu hal yang berubah darimu. Sifatmu. Hahaha,” Baekhyun mencoba mencairkan suasana yang tadinya tampak dingin. Tak ada yang berani bersuara.

“Ada apa dengan sifatku?” tanyaku heran. Menurutku sifatku tidak buruk dan tak ada perubahan seperti sebelumnya.

“Menurutku Yoonjo yang dulu adalah Yoonjo yang tomboi dan selalu rajin menasihatiku dengan nasihat-nasihatnya yang aneh. Ataupun Yoonjo yang selalu jahil terhadap temannya satu ini. Namun ketika melihatmu di bandara tadi, aku merasakan ada perubah pesat yang terjadi pada dirimu,” sambungnya.

“Hahaha…. Kau mencoba menggodaku?” tanyaku dengan tawaan yang di paksa-paksakan. Baekhyun menggeleng. Aku menatapnya dengan tatapan bingung, kenapa-kau-menggelengkan-kepalamu?

“Aku sedang tidak menggodamu. Aku sedang serius berbicara,” Baekhyun tampaknya sedang benar-benar serius, terlihat dari wajahnya yang tampak menyeramkan keika sedang berbicara dengan serius.

“Ah ne…. Kalau begitu, gomawo telah memujiku. Tapi ngomong-ngomong, kau terlihat seram ketika sedang serius. Lebih baik kau jangan terlalu serius agar wajahmu tak terlalu menakutiku,” ucapku yang hampir di serbu oleh tawaan keras dari mulutku.

“Hah? Yang benar?” pandangannya di alihkannya sekilas ke arahku. Aku mengangguk-angguk sambil tertawa.

Sepuluh menit perjalanan kami tiba di salah satu mal yang letaknya tak jauh dari tempatku tinggal. Aku yakin, Eunji pasti sedang berada di gedung yang sama denganku, di mal ini. Karena aku tahu, dia takut pergi jauh-jauh dari tempat tinggalnya.

Baekhyun mengajakku masuk ke dalamnya. Mal ini tampak rapi dan bersih. Semuanya tertata dengan rapi. Udara dingin yang di sumberkan dari pendingin ruangan di gedung ini langsung menyapa kulitku.

Aku berjalan berdampingan sambil menatap sekitar. Banyak sekali barang-barang bagus yang menggoda hatiku. Barang-barang tersebut seperti sedang menyanyi-nyanyi, memohon kepadaku agar aku dapat membeli mereka semua.

Hm…. Aku merasakan Baekhyun sejak tadi memperhatikanku yang masih membayangkan jika tas, sepatu dan pakaian-pakaian tadi menari-nari. Baekhyun sempat menanyakan kewarasanku dan aku menjawabnya dengan ganas jika aku adalah gadis yang masih di batas kewarasan yang normal.

“Njo, temenin ke toko buku bentar dong. Lagi pengen cari-cari buku bacaan baru,” pinta Baekhyun seraya menunjuk toko buku yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku mengangguk dan segera berjalan menuju tempat tersebut.

“Baek, aku kesana dulu ya. Nanti ketemuan aja di meja kasir,” ucapku sambil menunjuk bagian rak komik. Baekhyun mengangguk setuju. Kami berdua segera berpencar.

                “Baekhyun kemana ya?” Aku melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangan kiriku sekilas lalu mendesah kesal. Aku melirik sekitar mencoba mencari Baekhyun yang entah ada di mana.

                “Kau masih ingat ternyata!” Aku seperti mendengar suara yang sangat khas di telingaku. Suara siapa ya? Aku mencoba mengingat-ingat. Ah! Baekhyun! Mungkin itu benar suara Baekhyun. Aku memperlambat langkahku, berjalan sambil berjinjing ke sudut rak, ku julurkan sedikit kepalaku untuk mengintip apa yang sedang dia bicarkan.

                Eunji? Baekhyun dan Eunji sedang berbicara di sana dan mereka tampak akrab. Terkadang di sela-sela pembicaraan mereka menyempatkan untuk tertawa. Aku yang mengintip di sini merasa penasaran apa yang mereka tertawakan. Apa mereka menertawakan sikap tidurku yang buruk? Ah tidak mungkin!

                Aku berpikir dua hingga tiga kali. Datang menghampiri mereka berdua yang tengah asyik berbincang-bincang lalu menarik tangan Baekhyun untuk menjauh dari Eunji dan mengajaknya pulang. Ah tidak! Eunji pasti akan mengira jika aku dan Baekhyun sedang berkencan.

                Tapi, apa aku harus berdiam diri di sini, mengintip apa yang sedang mereka bicarakan lalu pergi dan pulang sendirian begitu saja. Aish aku menjadi bingung di buatnya.

                Untuk kedua kalinya aku melirik arloji. Satu jam lebih tiga puluh menit lagi dia harus bergegas pulang dan menyiapkan makan malam untuknya dan juga Eunji.

                “Terima kasih,” ucap penjaga kasir ramah. Yoonjo membalasnya dengan senyuman tipis lalu berjalan keluar dari toko dan bergegas pulang.

                Yoonjo berdiri di depan halte untuk menunggu bus yang akan datang mengantarnya sampai ke gedung apartemennya tempat dia tinggal. Sudah sepuluh menit menunggu tapi dak ada satu pun bus yang datang. Yoonjo merasa kesal dan berjalan sedikit jauh dari halte untuk mencari taksi.

Yoonjo menatap sekelilingnya heran. Jalanan tampak sepi. Tak ada orang-orang yang berlalu lalang dan tak ada motor, mobil, taksi atau bus sekalipun yang lewat. Yoonjo mulai merasa curiga.

                “Mmmmpppphhh!!!” Yoonjo merasa mulutnya di bekap oleh seseorang yang tak dia ketahui bagaimana ciri-cirinya. Orang itu membekap mulut Yoonjo dengan sapu tangan. Sekitar dua menit Yoonjo mulai tertidur.

                Yoonjo di bius.

                “KYAAAAA!!!! DIMANA AKU???!!!!!”

 

Bersambung….